Rasa
sunyi sendiri ini entah mengapa terus ada.
Tapi
untuk apa dia berlari mengitari dengan tertawa sukaria
dengan
ejekan sinis lalu beri garam pada luka yang aku tahu itu ada.
Telah
pergi semua mimpi bersama larutnya bayangmu dari selasar rumah jiwa,
pun
hadirmu tak lagi dinanti.
Biarkan
sunyi-sendiri ini,
biarkan
ia menari-nari di atas kuburan jiwa-jiwa.
Tak
hendak kucegahi peristiwa yang telah terjadi.
Kini
adalah kedukaan, lalu kemudian kedukaan adalah kini.
Adapun
hidup akan berjalan.
Adapun
luka kan terus menganga.
Adapun
sunyi akan selalu mendera,
Tak
hendak kuhindari, Tapi Takdir sudah menghendaki...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar