KABAR
Iya aku disiplin memberimu kabar. Tapi kamu disiplin mengabaikan
pentingnya sebuah kabar.#LDR
Sabar itu tak semudah mengucapkan dan berniat untuk hal itu.#LDR
Aku menanti sekaligus mengeluhkan kehadiranmu.#LDR
Membenarkan bahwa aku rindu dan lelah sekaligus membenarkan aku
tegar dan sabar menantimu.#LDR
Aku selalu bersedih pada… kesibukanmu dan berdo’a semoga kamu
benar-benar dengan kesibukanmu.#LDR
Aku sering terlupakan oleh kesibukanmu, tapi tak apa…aku yakin kamu
tak selalu sibuk. Semoga cepat memingatku kembali.#LDR
Jangan biarkan aku ada dengan sendiriku, karena sendiri itu butuh
teman jika diabaikan maka ia akan mencari teman.#LDR
Ajarkan aku mencintai kesibukan seperti yang kamu lakukan dibanding
menganggap ada kerinduanku.#LDR
Dan jika tak ingin berakhir rindu yang terabaikan berusaha untuk
dewasa, dan pengabai berusaha menghargai.#LDR
Seseorang yang suka merindu adalah aku, dan kamu sosok yang sering
kubenci karena tak menghiraukan hal yang kusuka.#LDR
Mengapa waktu tak pernah berpihak kepadaku?? Lirik lagu Judika
Setegah Merindu ini mirip seperti hantu yang bergentayangan di benakku. Rindu,
benci, dendam, dan cinta, dengan kompaknya sepakat bergelut di otakku. Rasanya
ingin marah, tapi kenapa didalam sekotak kemarahan itu tetap serselip kerinduan
yang memabara didalamnya. Entah apa posisiku sekarang ini sedang menjabat
sebagai wanita dewasa atau tidak. Segala kemarahan yang aku simpan, segala
upaya ingin kumatikan perasaan ini. Tetap saja aku memutuskan diam dan berusaha
meyakinkan diri, pasti ada harapan yang indah kelak. Sering rasanya aku ingin
menyerah, Tapi tak juga kulakukan. Sering juga aku berpikir dia tetap
mencintaiku, hanya saja keadaan yang tak sepakat. Sebagai seorang remaja yang
belum menjadi wanita, aku berusaha tegar menghadapi jarak dan kesibukanmu yang
semakin hari semakin melupakanku. Mungkin wajar, seorang remaja 18 tahun masih
sering berpikir kekasihnya tak setia ditempat yang tak bisa aku lihat dengan
sekejab mata. Sering hati menjerit kesakitan dan berucap “aku merindukannya
yang dulu” , aku sangat yakin, semua wanita yang masih remaja labil atau sudah
menjadi wanita pun akan menjerit hatinya saat mengalami perasaan sepertiku. Dua
tahun lebih berlalu, masih dengan jarak yang semakin hari semakin membunuh
kekuatan cintanya. Cinta yang dulu kokoh, kuat menghadapi badai atau hujan yang
menghujaninya. Sekarang telah menjadi rapuh termakan jarak. iya jarak, jarak
yang perlahan tapi pasti membunuh cinta yang entah semakin kokoh karena masih
bertahan, atau semakin rapuh termakan jarak. “yank aku kangen, nanti malem telp
yuuk” kukirim pesan singkat ku di SMS. Setelah enam jam aku menikmati kesakitan
karena menantinya, datang juga pesan singkat yang lagi-lagi merapuhkan
cintanya. “aduh, kayaknya gak bisa dech..besok masuk pagi aku kerjanya”
kesekian kalinya aku mendapati kalimat semacam ini disetiap hariku berteman
kekecewaan. Pernah sekali waktu, rasanya aku lelah, aku rapuh, dan ingin
menyerah. Kemarahan yang bergelut diotakku ingin sekali rasanya segera aku
keluarkan dari sarangnya. “kenapa sih kamu negga’ pernah ada waktu buat aku?
Boro-boro nelepon, sms aja jarang dibales. Apa kamu udh lupa sama aku?”
kemarahan yang berteman air mata ini disambutnya dengan sikap tak peduli. “kamu
apaan sih, aku paling ngga’ suka ya sama orang cengeng. Ya udah kamu nangis
dulu aja sana” balasnya dengan kalimat yang semakin menyakitkanku. Perasaanku
kacau, aku merasa tak ada lagi cintanya untukku. Segera kuhapus air mataku dan
mencoba menghubunginya kembali. “udah nangisnya?” kudengar kembali suara yang
tak sing lagi bagiku “iya udah” balasku dengan nafas panjang yang berusaha
menahan air mata agar tak lagi jatuh. Lama kami saling terdiam, kumulai
lagi-lagi mengalah “kog diem?” ucapku dengan air mata masih ingin keluar dengan
segala kesakitan didalamnya. “kenapa waktu kamu selalu kamu habiskan dengan
kerja dan teman-temanmu?” lanjutku dengan masih mencoba menguatkan diri
sendiri. “terus? Mau kamu aku gimana? Pengangguran kaya dulu? Aku juga pengen
berkembang, dan tolong kamu jangan menahanku. Nanti juga pasti ada waktunya
buat kita, kalo’ kamu ada disini juga aku pasti lebih milih kamu dibanding
bareng teman-temanku” jelasnya dengan aku yang masih dengan air mata, aku
setuju dengan dia yang ingin berkembang menjadi lebih baik. Tapi, yang
menyakitiku kenapa berkembangnya kamu dengan tanpa memperdulikan atau
mengingatku seperti dulu. “apa kamu masih cinta sama aku?” ucapku dengan
perasaan penuh tanda Tanya. “buat apa sih nanya begituan? Masih penting ya?”
balasnya dengan masih menyakitiku. Aku pikir wajar, semua wanita yang mencintai
kekasihnya pasti akan sering menanyakan hal tersebut, disamping segala
kesibukan dan sikap ketidakpedulian kekasihnya. “aku cuma nanya, kenapa sih
tinggal jawab aja kamu harus marah-marah kaya’ gitu?” selalu begini, seharusnya
aku yang marah, aku yang kecewa, aku yang membutuhkanyya, bukan dia yang
membutuhkan aku. Tapi, kenapa dia yang selalu marah dan aku yang selalu diam?
Semua karena aku mencintainya. Aku berusaha tegar dengan segala kemarahannya,
bukan sekali dia melampiaskan kemarahannya atas pekerjaannya padaku. Terbesit
dipikiran, kenapa harus aku yang kamu maki? Menikmati kebersamaan denganya itu
sungguh susah, kenapa aku yang harus bersalah dimatanya? Kenapa selalu aku yang
takut kehilangan dia, tapi kenapa dia tak merasa kehilangan kala aku tak
bersamanya. Dengan segalanya diatas, aku teteap sungguh mencintainya. “ abis
pertanyaan kamu itu ngga’ penting menurut aku, yang penting aku cinta kamu dan
nggak perlu harus aku umbar-umbarin bilang. Kamu tinggal nilai aja yang udah
aku lakuin selama ini buat kamu, buat apa semua pengorbanan aku itu kalo’ aku
ngga’ cinta sama kamu” balasnya lagi dengan air mataku yang semakin deras.
“tapi bagi aku kalimat cinta itu perlu, aku butuh itu, apa salah kalo’ aku
pengen denger kamu bilang cinta sama aku ?” ucapku dengan agak mereda. “buat
apa? Kita ini bukan anak baru kemaren sore pacaran. Kamu juga udah tau aku, ya
udah jalanin aja kenapa sih, udah ngga’ perlu ngambek-ngambek lagi. Kamu itu
Cuma kurang aktivitas, mangkanya jadi cenggeng begini. Dikit-dikit nangis, coba
dech isi kegiatan yang berguna, bantuin ibu kan bisa. Jangan kelamaan benggong
sama nonton sinetron aja, jadinya begini nih lebay banget” jelasnya agak
sedikit menghina, tapi membuat hati sedikit tenang. “iya, iya, kan aku belum
ada kerjaan apa-apa sekarang, belum ada banyak temen dan ngga’ ada temen maen.
Aku cerita juga sama kamu, aku jadi bergantung sama kamu” balasku lagi-lagi
membela diri. “iya sayang aku ngerti, mangkanya jangan bengong aja dunk, cari
kegiatan biar ngga’ berhayal mulu, nangis mulu jadinya kan?” paparnya yang
mulai menenangkanku lagi, “iya yank, mangkanya aku disayang dunk biar ngga’
nangis mulu” balasku manja, “iya sayangku, love you” ucapnya singkat.
Malam ini aku sekdikit bahagia, tapi ini tak bertahan lama, sering
kali kejadian seperti ini terulang kembali dan membaik seperti ini. Aku pikir
semua itu karena kekuatan cinta, cintaku dan cintanya yang masih kokoh yang
membuat kita masih bertahan hingga sekarang. Tidak jarang dia lebih lupa
mengabariku, sering kali juga aku mengingatkan “jangan lupa kasih kabar ya”
untuk ke sekian kalinya ia mengiyakan. Tapi aku entah mengapa, ada marah juga
ada maaf, dalam marah tetap saja ada rindu, aku mencintainya dengan apa yang
dia punya kemaren, sekarang, dan setelah apa yang terjadi dihidupku, hidupnya,
dan tentu jarak yang masih belum mengijinkan kita bersatu. Tapi aku masih
percaya, semua indah pada waktunya. Entah apa dan bagaimana yang terjadi esok
dan seterusnya, kini hanya dia penyebab air mataku menetes tiap harinya,
penyebab senyuman tipis diujung bibirku, dan penyebab aku mengenal segalanya.
Aku merindunya sejak kemaren hingga sekarang, masih bergetar didada mendengar
suaranya, semua tetap sama. Harapanku kini hanya dia untuk sekarang dan esok,
tapi jika tuhan berkehendak lain. Semoga apa yang terjadi kini ,kemaren, dan
selanjutnya semakin mendewasakan aku dan juga dia dimasa depan.
Aku…aku hanya ingin bersamamu hingga waktu yang menentukan kapan itu
akan terjadi..
Aku…aku tak ingin omong kosong dengan kenyataan,aku hanya ingin
kesetiaan dengan pembuktian..
Aku…aku ingin kamu menghargai kerinduanku…
Aku…aku berharap kamu jadi harapanku …itu saja…
Aku…aku selalu berharap kita tetap bersama melewati jarak hingga
bersatu tanpa jarak…
By : uun fan centil

Tidak ada komentar:
Posting Komentar